Trinitas, Tauhid, dan Monoteisme

This post is also available in: English (English) عربى (Arabic) 中國傳統的) (Chinese (Traditional)) Français (French) Deutsch (German) Türkçe (Turkish)

Tauhid (توحيد ) dan Trinitas (الثالوث), dan Kepercayaan Monoteistik pada Satu Tuhan

Barangkali, Anda pernah mengalami pergumulan saya, yakni berupaya keras untuk memahami perbedaan Kristen dan Muslim tentang Tuhan. Doktrin tentang Tuhan saja sudah cukup sulit untuk dimengerti, apalagi memahami perbedaan antara Kristen dan Muslim.

Anda mungkin pernah mendengar bahwa orang Kristen percaya bahwa 1+1+1=1?1 Mungkin Anda tidak begitu paham arti tauhid, syahadat, atau syirik. Atau mungkin, karena terlalu bingung, Anda menyerah memahami perbedaannya dan menyimpulkan, “Kristen dan Muslim menyembah Tuhan yang sama” atau “Allah yang paling tahu.”

Jika Anda telah berjuang memahami perbedaan tersebut dan mengapa hal itu penting, maka teruskan membaca. Perbedaan itu berdampak kekal!

Orang Kristen dan Muslim adalah Monoteis.

Pada dasarnya, Islam dan Kristen percaya pada Satu Tuhan. Orang Kristen dan Muslim sama-sama monoteis.

P Doktrin monoteisme umat Muslim dinyatakan dalam syahadat, pilar Islam yang pertama:

Syahadat, ditulis dalam kaligrafi Arab

Syahadat, ditulis dalam kaligrafi Arab

Tiada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah rasul Allah.

لا اله الا الله محمد رسول الله (Lâ Ilâha illalLâh Muhammad RasûluLlâh)

Sama seperti Islam, monoteisme adalah doktrin sentral agama Kristen. Musa mengajarkan:

Ulangan 6:4
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa.

Yesus menegaskan monoteisme sebagai bagian dari perintah yang pertama dan terutama:

Markus 12:28-30
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?” Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Tauhid dan Trinitas

Jika Kristen dan Muslim sama-sama monoteis, lalu apa bedanya? Perbedaannya adalah:

  • Monoteisme Kristen adalah Trinitian.
  • Monoteisme Islam adalah Unitarian atau Tauhid.1Unitarianisme adalah kepercayaan tentang monoteisme yang umum dalam Islam, Yudaisme Rabinik, Sikhisme, gerakan abad ke-16 yang disebut Unitarianisme, dan Saksi Yehuwa. Pada abad keempat, ada gerakan unitarian dalam agama Kristen yang disebut Arianisme. Arianisme dikutuk oleh gereja Kristen sebagai bidat, sedangkan monoteisme yang alkitabiah dijelaskan dalam Pengakuan Iman Nicea.

Hanya ada satu Tuhan (monoteisme) tetapi, ada lebih dari satu jenis monoteisme. 2Monoteisme tidak “mono”/tunggal.”

Karena itu, yang menjadi pertanyaan adalah: Bentuk monoteisme manakah yang benar: Trinitarian atau Unitarian (Tauhid)?

Banyak Muslim percaya bahwa monoteisme Trinitarian adalah syirik, dosa yang tak terampuni karena mempersekutukan atau menyetarakan Allah dengan yang lain (Alquran 5:17).3Alquran mengecam dosa syirik secara mutlak (dinyatakan dengan jelas dalam Quran 112). Itulah satu-satunya dosa yang tidak terampuni: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu” (Quran 4:48, 116). Dalam bahasa Arab, frasa “segala dosa selain dari itu” juga bermakna “segala dosa yang lebih ringan dari itu”—menyiratkan bahwa syirik adalah dosa terbesar, sebab semua dosa lain “lebih ringan” darinya. (Mir, Mustansir, “Polytheism and Atheism”, dalam: Encyclopaedia of the Qurʾān, Pimpinan Editor: Jane Dammen McAuliffe, Georgetown University. Alquran mengandung peringatan keras terhadap syirik.4Quran 34:20-24
20Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. 21Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.  22Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. 23Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?”
Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. 24Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.
Quran 35:40
Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah.
Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya?
Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka”.
Quran 46:4
Katakanlah:
“Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit?
Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar”

Anehnya, “Trinitas” yang ditolak Alquran bukanlah monoteisme Trinitarian yang secara historis diyakini oleh orang Kristen.5[A]lquran menolak segala doktrin Trinitas. Namun, perlu ditekankan bahwa Trinitas yang dipahami dan ditolak itu tidak sama dengan Trinitas yang diajarkan oleh dogma Kristen dan yang disepakati oleh sidang (gereja) yang ada sebelum Alquran diwahyukan. (Anawati, G.C. “ʿĪsā.”, dalam The Encyclopaedia of Islam, ed. P. Bearman et al. [Leiden: Brill, 1986-2004]). Namun demikian, ajaran Alquran yang menolak “Trinitas” dan mengusung monoteisme Unitarian ini bermasalah, karena monoteisme Unitarian asing bagi Kitab Suci Kristen, baik Perjanjian Lama maupun Baru. Pentingnya monoteisme Unitarian (Tauhid) dalam teologi Islam berasal dari ajaran Alquran tentang hari Alastu (Alam Dzar).

Ringkasan Monoteisme dan Trinitas yang Alkitabiah

Kepercayaan Monoteis Kristen dapat dirangkum dalam tujuh poin berikut:

  1. Bapa adalah Tuhan.
  2. Putra adalah Tuhan.
  3. Roh Kudus adalah Tuhan.
  4. Bapa bukan Putra.
  5. Putra bukan Roh Kudus.
  6. Roh Kudus bukan Bapa.
  7. Hanya ada satu Tuhan.

Ketika orang Kristen mengatakan: (1) Allah Bapa adalah Tuhan; (2) Allah Putra adalah Tuhan; dan (3) Allah Roh Kudus adalah Tuhan, maka kami sedang mendeskripsikan siapa itu Tuhan.

Ketika kami mengatakan: (4) Bapa bukan Putra; (5) Putra bukan Roh Kudus; (6) Roh Kudus bukan Bapa, berarti kami membedakan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Pernyataan ketujuh dan terakhir adalah yang paling sulit, “Hanya ada satu Tuhan”. Orang Yunani berkata, “Zeus adalah dewa, Apolos adalah dewa, dan Dionysius adalah dewa,” maka ada tiga dewa. Agama Kristen berkata, “Bapa adalah Tuhan, Putra adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan, tetapi hanya ada satu Tuhan.”

Untuk memperjelas tujuh poin di atas, perhatikanlah diagram berikut:

Diagram hubungan Trinitas antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
1. Bapa adalah Tuhan.
2. Putra adalah Tuhan.
3. Roh Kudus adalah Tuhan.
4. Bapa bukan Putra.
5. Putra bukan Roh Kudus.
6. Roh Kudus bukan Bapa.
7. Hanya ada satu Tuhan.


Diagram hubungan Trinitas antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Bagaimana Kita Memilih antara Monoteisme Trinitarian dan Monoteisme Unitarian (Tauhid)?

Yesus berwenang menentukan monoteisme

Orang Kristen adalah monoteis Trinitarian berdasarkan karya Allah dalam sejarah.6“Hubungan antara kepercayaan orang Kristen pada monoteisme (doktrin) dan sejarah terdapat dalam Pengakuan Iman Nicea (381M),
Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa (doktrin), Pencipta langit dan bumi, segala kelihatan dan yang tak kelihatan (sejarah).
Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah Yang Tunggal, lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, Terang dari Terang. Allah Yang Sejati dari Allah Yang Sejati, diperanakkan, bukan dibuat; sehakekat dengan Sang Bapa (doktrin), yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat (sejarah); yang telah turun dari sorga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita (doktrin); dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria; dan menjadi manusia; yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus;menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga,sesuai dengan isi kitab-kitab, dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang kerajaan-Nya takkan berakhir. (sejarah)
Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan dan Yang menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak, yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan (doktrin); yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi (sejarah).
Aku percaya satu gereja yang kudus dan am dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa (doktrin). Aku menantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan pada zaman yang akan datang. (sejarah) Amin.

Fakta bahwa Yesus Kristus hidup dan telah bangkit dari kematian merupakan bukti bahwa monoteisme trinitarian adalah benar. Yesus memiliki otoritas yang lebih besar untuk mendefinisikan monoteisme daripada siapa pun, baik manusia atau malaikat (Matius 28: 18-20).

Yesus mendasarkan kehidupan dan pengajaran-Nya pada Kitab Suci Perjanjian Lama. Perjanjian Lama dan Baru dengan tegas mengajarkan monoteisme (Ulangan 6:4; Markus 12:29), tetapi bukan monoteisme Unitarian.

Kitab Suci Yahudi dan Kristen tidak membenarkan monoteisme Unitarian7Sepanjang pengetahuan saya, umat Muslim keliru beranggapan bahwa kitab-kitab Injil Kristen (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sama dengan Injeel dalam Qur’an (bdk. Qur’an 5 :46-47 ; 57:27). Bila Injeel adalah kitab suci yang diturunkan dari surga kepada Yesus, dan kemudian Yesus berikan kepada para pengikut-Nya, berarti kitab Injil milik orang Kristen tidak sama dengan Injeel dalam Qur’an. Tidak ada kitab semacam itu (Injeel) yang diturunkan kepada Yesus maupun murid-Nya. Untuk mempelajari lebih lanjut, lihat ‘Yang Perlu Diketahui Umat Muslim tentang Alkitab.

Pasal pertama dalam Alkitab menegaskan tentang monoteisme, tetapi bukan jenis monoteisme yang terdapat dalam Alquran (Kejadian 1:1-2, Kejadian 1:26,27 dengan Yohanes 1:1-3).8Perlu dipahami bahwa Allah mewahyukan diri-Nya secara bertahap dari waktu ke waktu. Sebelum datangnya penebusan (pada era) Perjanjian Baru, manusia belum sepenuhnya mengenal Allah. Kekurangan itu bukanlah kebetulan yang timbul semata-mata hanya dari keterbatasan daya pikir atau moral pada individu atau masyarakat, melainkan akibat tak terhindarkan dari struktur sejarah dan struktur penebusan. Pengetahuan manusia tentang Allah hanya dapat tumbuh sejalan dengan karya penebusan yang menggenapkan rencana Allah. Akibatnya, dalam Perjanjian Lama, karakter Allah Tritunggal diwahyukan dan dipahami secara samar-samar. Teologi Trinitarian yang lengkap bertumpu pada pewahyuan Perjanjian Baru (Vern Sheridan Poythress, “Reforming Ontology and Logic in the Light of the Trinity: An Application of Van Til’s Idea of Analogy”; Jurnal Teologi Westminster 57:214).

Contoh lain monoteisme—jenis monoteisme yang tidak terdapat dalam Alquran—antara lain:

  • Malaikat TUHAN (Kejadian 18:1-2,17; 32:28-30). Pada ayat-ayat tersebut, Tuhan muncul dalam wujud manusia.9Pada Keluaran 3:1-6, Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada Musa dalam nyala apiyang keluar dari semak duri dan meminta Musa melepaskan alas kakinya karena dia sedang berdiri di tanah yang kudus. Malaikat TUHAN memperkenalkan diri-Nya dalam Keluaran 3:6 sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia juga menyatakan nama-Nya sebagai Yahweh (Keluaran 3:13-16; 4:1-5). Yahweh secara bertahap mewahyukan diri-Nya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan monoteisme Unitarian dalam Alquran. Dari kitab Keluaran dan bacaan tentang Malaikat TUHAN dalam kitab Kejadian terbukti bahwa Yahweh secara bertahap mengungkapkan diri-Nya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan monoteisme Unitarian Alquran.
  • Pernyataan Raja Daud dalam Mazmur (Mazmur 2; 45:6-7 dan Ibrani 1:8-9; 110:1 dan Matius 22: 35-46)

Ayat-ayat tersebut tidak menyebut Trinitas secara eksplisit, tetapi tidak cocok dengan monoteisme Unitarian. Meski begitu, teks ini cocok dengan monoteisme Trinitarian– apa yang Yesus ungkapkan dan alasan Dia dijatuhi hukuman mati (Matius 26: 63-68).

Ajaran Yesus tentang monoteisme

Yesus Kristus memberikan jawaban pasti tentang  monoteisme (Yohanes 10:30):

  • Nama Yesus dalam Perjanjian Lama artinya “Yahweh menyelamatkan” (Matius 1:21; lih. Yunus 2:9).
  • Yesus juga memiliki Nama “Imanuel” yang berarti Tuhan beserta kita (Matius 1:23).
  • Yesus mengampuni dosa; sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Allah (Markus 2:1-13).
  • Yesus berkata, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada” dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan cara Allah menyatakan diri kepada Musa di semak berapi (Yohanes 8:58-59 dengan Keluaran 3:14-15).
  • Yesus menegaskan tentang kesatuan Allah ketika Ia mengajarkan, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30).
  • Yesus menerima penyembahan dari orang lain (Matius 8:2; 14:33; 15:25; 20:20; 28:17; Markus 5:6).10Kata “injil” kerap menjadi rancu karena dipahami secara berbeda oleh umat Islam dan Kristen, sebab Alquran memahami “Injil” (Injeel) sebagai kitab suci yang diturunkan dari surga kepada Yesus (bdk.Alquran 5:46-47; 57:27). Akan tetapi, Yesus tidak pernah menerima kitab dari langit. Kitab Injeel  yang dikatakan oleh Alquran tidak pernah ada, sedangkan injil menurut pengertian Kristen adalah kitab yang nyata: Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Alquran keliru mengenai Injeel.
    Lama sebelum Alquran ada, kata “injil” dalam Alkitab (bahasa Yunaninya:  εὐαγγέλιον) memiliki makna kabar baik dan memberitakan (bahasa Yunani:  εὐαγγελίζω) kabar baik tentang kerajaan Tuhan, Mesias dari Tuhan (Kristus), dan apa yang telah Yesus selesaikan (1 Korintus 15:1-4). Setelah Yesus mati di kayu salib, bangkit, dan naik ke surga, para murid-Nya memberitakan kabar baik tersebut, dan belakangan menuliskannya. Tulisan itulah yang oleh umat Kristen sekarang disebut Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Semua itu merupakan catatan yang berasal dari ilham ilahi mengenai kabar baik kematian Yesus bagi dosa, kemenangan-Nya atas iblis dan maut, serta hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 20:30-31). Bila Anda belum pernah membaca Injil Kristen, saya merekomendasikan bacalah Injil Yohanes.
    Alquran bukan hanya mengarang soal kitab yang tidak pernah ada (Injeel), tetapi juga menyangkal kematian Yesus di kayu salib serta kebangkitan-Nya, dan mengarang tentang suatu peristiwa di masa lalu ketika semua manusia memiliki fitrah Islam, yakni Hari Alastu.

Ajaran Yesus tentang monoteisme terbukti benar ketika Yesus bangkit kembali dari kematian. Kebangkitan-Nya menghubungkan doktrin Kristen tentang Tritunggal dengan peristiwa sejarah kebangkitan Yesus dari antara orang mati.

Doktrin trinitas dan karya Allah dalam sejarah berpadu dengan indah dalam salah satu gelar terpenting Yesus, yaitu Kristus.

Gelar “Kristus” menjadi rujukan terhadap wewenang Yesus dalam menetapkan monoteisme.

Kehidupan, pengajaran, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus merupakan peristiwa bersejarah sekaligus alasan mengapa orang Kristen menganut Monoteis Trinitarian. Alquran rancu—dan mungkin bertentangan—karena:

  1. Alquran tidak menerima monoteisme Trinitarian (Quran 4:171; 5:73) dan menyangkal kematian Yesus Kristus di kayu salib (Quran 4:157), juga kebangkitan-Nya dari kematian.
  2. Alquran menyebut Yesus sebagai “Mesias/ Kristus” (Alquran 3:45).

Alquran rancu dan bertentangan dalam hal tersebut karena Mesias/Kristus adalah gelar kunci yang menegaskan (1) hubungan Yesus dengan Roh Kudus, Pribadi Ketiga dalam Trinitas (1Samuel 16:13111 Samuel 16:13
13Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.
; Yohanes 1:32-3412Yohanes 1:32–34
32Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.  33Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.  34Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.
; 20:2213Yohannes 20:22
22Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.
); (2) Hubungan Allah dengan umat-Nya melalui iman kepada Yesus (Kisah Para Rasul 2:36-4114Kisah Para Rasul 2:36–41
36Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”37Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” 38Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. 39Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu  dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”40Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan  yang jahat ini .”41Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
); dan (3) kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sebelah kanan Allah Bapa.15Sejumlah Muslim bisa saja mengabaikan lebih dari 500 referensi dalam Perjanjian Baru tentang “Kristus” dan berpendapat bahwa Kitab Suci Kristen telah dibengkokkan sehingga mereka mengabaikan gelar Mesias/ Kristus yang digunakan dalam Alkitab. Namun, di sinilah tampak salah satu penyimpangan utama Islam dari agama Ibrahim dan Yudaisme: Islam terlepas dari sejarah penebusan. Artinya, Islam sepenuhnya bersandar pada ucapan dan kehidupan seorang pria dan pernyataan-pernyataannya tentang apa yang terjadi berabad-abad sebelum dia ada. Terlepasnya Islam dari sejarah penebusan adalah sesuatu yang asing dan berbeda dari agama Ibrahim, “Iman Yahudi-Kristen tidak tumbuh dari spekulasi filosofis yang canggih atau pengalaman mistik yang mendalam, melainkan muncul dari pengalaman sejarah Israel, lama dan baru, di mana Tuhan membuat diri-Nya dikenal” (George Eldon Ladd).

  1. Petrus, Murid Yesus, mengakui Yesus sebagai Kristus dalam Matius 16:13-23 (Matius 16:13-23)16Matius 16:13-23
    13Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” 14Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” 15Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” 16Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah b  yang hidup!” 17Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya 19Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” 20Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.
    Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia. 21Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan k  dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan n  pada hari ketiga. 22Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” 23Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
  2. Yesus bersaksi kepada Imam Besar dan Mahkamah Sanhedrin bahwa Dia adalah Kristus, lalu dihukum dengan tuntutan penghujatan (Matius 26: 63-68).17Matius 26:63-68
    63Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” 64Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya.  Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit. 65Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. 66Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!” 67Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, 68dan berkata: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?
  3. Petrus berkotbah tentang Yesus sebagai Kristus dalam Kisah Para Rasul 2:32-36, mendefinisikan “Kristus” dalam hal kematian Yesus di kayu salib, kebangkitan dari kematian, dan kenaikan ke surga,

Kisah Para Rasul 2:32-36
32Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.
33Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya  apa yang kamu lihat dan dengar di sini.
34Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: 35Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. 36Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.

Yesus meninggalkan dua tanda yang menegaskan monoteisme Trinitarian bagi Umat Kristen

Selain itu, dua ritus (sakramen) terpenting yang diberikan Yesus kepada gereja menyoroti sejarah sekaligus monoteisme Trinitarian: (1) Perjamuan Kudus menyoroti pekerjaan Allah dalam sejarah yang berpuncak pada Yesus (Lukas 22: 14-2018Lukas 22: 14-20
14Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. 15Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. 16Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.17Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. 18Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.” 19Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” 20Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
; lihat juga 1 Korintus 11:23-26191 Korintus 11:23-2623Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 24dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” 25Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” 26Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang., 20“… di semua gereja di seluruh dunia, dilakukan ritual, biasanya pada hari pertama minggu itu. Detail ritualnya mungkin berbeda-beda di berbagai tempat, tetapi satu hal tetap sama dan terpusat, yaitu roti dipecahkan, air anggur dituang lalu diminum; orang yang memecahkan roti dan menuangkan anggur mengatakan bahwa dia melakukannya demi menuruti perintah yang diberikan oleh Juruselamat pada malam sebelum hari kematian-Nya; sebab Dia, pada malam itu, mengambil roti, memecahkannya, dan memberikannya untuk dimakan, kemudian menuangkan anggur dan memberikannya untuk diminum, sambil mengatakan bahwa roti itu adalah tubuh-Nya yang dipecahkan, dan air anggur adalah darah-Nya yang dicurahkan bagi manusia, lalu menutupnya dengan perkataan, “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku.” (William Henry Temple Gairdner, The Eucharist as Historical Evidence, The Nile Mission Press, Kairo, Mesir). dan (2) Baptisan menyoroti bahwa Yesus telah sepenuhnya mengungkapkan monoteisme adalah Trinitarian (Matius 28:18-20).21“Baptisan Kristen dilakukan bukan “atas nama” tiga Tuhan, bukan dua makhluk ditambah satu Tuhan, bukan tiga bagian dari Tuhan, bukan juga tiga tahapan Tuhan, tetapi satu Tuhan yang adalah Bapa, Anak, dan Roh yang kekal) (Gregorius dari Nyssa, dalam “Not Three Gods,” NPNF [A Select Library of the Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church, Seri pertama, 14 jilid. seri kedua, 14 jilid. Diedit oleh H. Wace dan P. Schaff ] 2 V, hlm. 331-37) … Arti penting liturgisnya, penempatannya yang strategis dalam Injil Matius sebagai perintah terakhir Tuhan, dan fakta bahwa baptisan sering disebut-sebut oleh para penulis Kristen mula-mula, menjadikan ayat ini sebagai inti dari pengajaran Tritunggal. Hal tersebut secara implisit menegaskan keilahian, perbedaan, kesetaraan, dan kesatuan antara Bapa, Anak, dan Roh. Hal ini menyiratkan serta mengundang umat manusia untuk memuja dan mengakui iman kepada Allah Tritunggal (Cyril of Jerusalem, Catechetical Lectures. XVI.4, NPNF 2 VII, p.116)” (Thomas Oden, The Living God: Systematic Theology, Vol. I:202).

Doktrin Kristen tentang Trinitas dan Kepercayaan pada Satu Tuhan Mengandung Misteri

Doktrin Kristen tentang Trinitas diwahyukan oleh Allah; Namun, tidak berarti kita dapat sepenuhnya memahami kebenaran yang menakjubkan ini. Tuhan lebih besar daripada yang mampu kita pahami.

Dalam sejarah gereja, Santo Augustinus (354-430) mungkin merupakan tokoh yang paling banyak memikirkan doktrin Trinitas dibanding para penulis lain, kecuali John Calvin. Diceritakan bahwa Agustinus  pernah berjalan di tepi pantai, sedang bingung tentang doktrin Trinitas. Ketika merenung, dia mengamati seorang anak lelaki kecil memegang cangkang kerang, berlari ke air, mengisi cangkangnya, kemudian menuangkannya ke dalam lubang yang telah dia buat di pasir.

Lukisan “The Vision of Saint Augustine” oleh Sandro Botticelli (c.1488). Seorang anak kecil sedang menjelaskan kepada Santo Agustinus bahwa ia mencoba menaruh laut ke dalam lubang kecil yang ia gali.
“The Vision of Saint Augustine” oleh Sandro Botticelli (c.1488)

“Kau sedang apa, nak?” Tanya Augustine.

“Oh, aku sedang berusaha memasukkan laut ke lubang ini,” jawab si anak.

Agustinus pun tersadar, kemudian berseru, “Itulah yang sedang kucoba; sekarang aku mengerti. Selama ini, aku berusaha memasukkan hal-hal yang tidak terbatas ke dalam pikiranku yang terbatas.”22Kisah ini mungkin hanya legenda, tetapi diceritakan untuk menggambarkan kebesaran Tuhan. Versi serupa juga dikemukakan oleh Alister McGrath yang menulis, “Bagi Agustinus, intinya sederhana: Si comprehendis non est Deus. Jika dapat dimengerti dengan mudah, berarti Dia pasti bukan Tuhan. Pemikiran kita tentang Tuhan tampaknya tidak logis dan membingungkan, justru karena pikiran-pikiran tersebut berada di luar jangkauan pengetahuan dan pemahaman kita sepenuhnya.” (Christian Theology: An Introduction, edisi kelima [Oxford: Wiley-Blackwell, 2011], 235.).

Jadi, tidaklah mengejutkan bahwa kepercayaan Kristen pada Allah Tritunggal mengandung misteri yang melampaui pikiran manusia.

Mungkinkah Alquran merupakan firman Allah jika Alquran menyangkal monoteisme Trinitarian?

Apakah Alquran memang firman Tuhan yang Sejati?

Jawaban orang Kristen haruslah tegas, “Tidak!” Alquran tidak mungkin merupakan Firman Allah yang benar karena Alquran tidak mengakui Allah Sejati yang diwahyukan dalam Alkitab.

Ajakan untuk Percaya pada Satu Tuhan yang Sejati

Gambar dua orang yang mendiskusikan Kitab Suci Kristen dan Islam.
Klik gambar untuk mengirimkan surel kepada penulis dan berdiskusi lebih lanjut.
Klik di sini jika Anda ingin bertanya atau berdiskusi lebih lanjut.

Jika Anda percaya pada Yesus, berarti Anda merupakan monoteis Trinitian yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (Yohanes 20:27-28). Percayalah pada Yesus dan dibaptislah dalam nama Allah Tritunggal (Matius 28:18-19; Kisah Para Rasul 2:36-42)

Artikel yang mungkin menarik bagi Anda:

Yang Perlu Diketahui Umat Muslim tentang Alkitab dan Injil

Wafat Yesus di salib dan Alquran

Tonton: Trinitas dan Tauhid

Baca baca Apakah Al-Quran Adalah Firman Allah?

Gambar cover buku, "Apakah Al-Quran Adalah Firman Allah?"
Klik gambar untuk mengunduh buku ini dalam format PDF.

Footnotes

  1. Islam mengajarkan monoteisme mutlak, padahal dalam Al-Quran, Allah sendiri bersabda tentang diri-Nya dengan memakai bentuk jamak, setidaknya 72 kali. Jadi, bagaimana mungkin monoteisme itu mutlak?

References   [ + ]

1. Unitarianisme adalah kepercayaan tentang monoteisme yang umum dalam Islam, Yudaisme Rabinik, Sikhisme, gerakan abad ke-16 yang disebut Unitarianisme, dan Saksi Yehuwa. Pada abad keempat, ada gerakan unitarian dalam agama Kristen yang disebut Arianisme. Arianisme dikutuk oleh gereja Kristen sebagai bidat, sedangkan monoteisme yang alkitabiah dijelaskan dalam Pengakuan Iman Nicea.
2. Monoteisme tidak “mono”/tunggal.”
3. Alquran mengecam dosa syirik secara mutlak (dinyatakan dengan jelas dalam Quran 112). Itulah satu-satunya dosa yang tidak terampuni: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu” (Quran 4:48, 116). Dalam bahasa Arab, frasa “segala dosa selain dari itu” juga bermakna “segala dosa yang lebih ringan dari itu”—menyiratkan bahwa syirik adalah dosa terbesar, sebab semua dosa lain “lebih ringan” darinya. (Mir, Mustansir, “Polytheism and Atheism”, dalam: Encyclopaedia of the Qurʾān, Pimpinan Editor: Jane Dammen McAuliffe, Georgetown University.
4. Quran 34:20-24
20Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. 21Dan tidak adalah kekuasaan iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang itu. Dan Tuhanmu Maha Memelihara segala sesuatu.  22Katakanlah: “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. 23Dan tiadalah berguna syafa’at di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafa’at itu, sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan-mu?”
Mereka menjawab: (Perkataan) yang benar”, dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. 24Katakanlah: “Siapakan yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah”, dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.
Quran 35:40
Katakanlah: “Terangkanlah kepada-Ku tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah.
Perlihatkanlah kepada-Ku (bahagian) manakah dari bumi ini yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas daripadanya?
Sebenarnya orang-orang yang zalim itu sebahagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebahagian yang lain, melainkan tipuan belaka”.
Quran 46:4
Katakanlah:
“Terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu sembah selain Allah, perlihatkan kepada-Ku apakah yang telah mereka ciptakan dari bumi ini atau adakah mereka berserikat (dengan Allah) dalam (penciptaan) langit?
Bawalah kepada-Ku Kitab yang sebelum (Al Quran) ini atau peninggalan dari pengetahuan (orang-orang dahulu), jika kamu adalah orang-orang yang benar”
5. [A]lquran menolak segala doktrin Trinitas. Namun, perlu ditekankan bahwa Trinitas yang dipahami dan ditolak itu tidak sama dengan Trinitas yang diajarkan oleh dogma Kristen dan yang disepakati oleh sidang (gereja) yang ada sebelum Alquran diwahyukan. (Anawati, G.C. “ʿĪsā.”, dalam The Encyclopaedia of Islam, ed. P. Bearman et al. [Leiden: Brill, 1986-2004]). Namun demikian, ajaran Alquran yang menolak “Trinitas” dan mengusung monoteisme Unitarian ini bermasalah, karena monoteisme Unitarian asing bagi Kitab Suci Kristen, baik Perjanjian Lama maupun Baru. Pentingnya monoteisme Unitarian (Tauhid) dalam teologi Islam berasal dari ajaran Alquran tentang hari Alastu (Alam Dzar).
6. “Hubungan antara kepercayaan orang Kristen pada monoteisme (doktrin) dan sejarah terdapat dalam Pengakuan Iman Nicea (381M),
Aku percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa (doktrin), Pencipta langit dan bumi, segala kelihatan dan yang tak kelihatan (sejarah).
Dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah Yang Tunggal, lahir dari Sang Bapa sebelum ada segala zaman. Allah dari Allah, Terang dari Terang. Allah Yang Sejati dari Allah Yang Sejati, diperanakkan, bukan dibuat; sehakekat dengan Sang Bapa (doktrin), yang dengan perantaraan-Nya segala sesuatu dibuat (sejarah); yang telah turun dari sorga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita (doktrin); dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari anak dara Maria; dan menjadi manusia; yang disalibkan bagi kita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus;menderita dan dikuburkan; yang bangkit pada hari ketiga,sesuai dengan isi kitab-kitab, dan naik ke sorga; yang duduk di sebelah kanan Sang Bapa dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati; yang kerajaan-Nya takkan berakhir. (sejarah)
Aku percaya kepada Roh Kudus, Tuhan dan Yang menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa dan Sang Anak, yang bersama-sama dengan Sang Bapa dan Sang Anak disembah dan dimuliakan (doktrin); yang telah berfirman dengan perantaraan para nabi (sejarah).
Aku percaya satu gereja yang kudus dan am dan rasuli. Aku mengaku satu baptisan untuk pengampunan dosa (doktrin). Aku menantikan kebangkitan orang mati dan kehidupan pada zaman yang akan datang. (sejarah) Amin.
7. Sepanjang pengetahuan saya, umat Muslim keliru beranggapan bahwa kitab-kitab Injil Kristen (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sama dengan Injeel dalam Qur’an (bdk. Qur’an 5 :46-47 ; 57:27). Bila Injeel adalah kitab suci yang diturunkan dari surga kepada Yesus, dan kemudian Yesus berikan kepada para pengikut-Nya, berarti kitab Injil milik orang Kristen tidak sama dengan Injeel dalam Qur’an. Tidak ada kitab semacam itu (Injeel) yang diturunkan kepada Yesus maupun murid-Nya. Untuk mempelajari lebih lanjut, lihat ‘Yang Perlu Diketahui Umat Muslim tentang Alkitab.
8. Perlu dipahami bahwa Allah mewahyukan diri-Nya secara bertahap dari waktu ke waktu. Sebelum datangnya penebusan (pada era) Perjanjian Baru, manusia belum sepenuhnya mengenal Allah. Kekurangan itu bukanlah kebetulan yang timbul semata-mata hanya dari keterbatasan daya pikir atau moral pada individu atau masyarakat, melainkan akibat tak terhindarkan dari struktur sejarah dan struktur penebusan. Pengetahuan manusia tentang Allah hanya dapat tumbuh sejalan dengan karya penebusan yang menggenapkan rencana Allah. Akibatnya, dalam Perjanjian Lama, karakter Allah Tritunggal diwahyukan dan dipahami secara samar-samar. Teologi Trinitarian yang lengkap bertumpu pada pewahyuan Perjanjian Baru (Vern Sheridan Poythress, “Reforming Ontology and Logic in the Light of the Trinity: An Application of Van Til’s Idea of Analogy”; Jurnal Teologi Westminster 57:214).
9. Pada Keluaran 3:1-6, Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada Musa dalam nyala apiyang keluar dari semak duri dan meminta Musa melepaskan alas kakinya karena dia sedang berdiri di tanah yang kudus. Malaikat TUHAN memperkenalkan diri-Nya dalam Keluaran 3:6 sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Ia juga menyatakan nama-Nya sebagai Yahweh (Keluaran 3:13-16; 4:1-5). Yahweh secara bertahap mewahyukan diri-Nya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan monoteisme Unitarian dalam Alquran. Dari kitab Keluaran dan bacaan tentang Malaikat TUHAN dalam kitab Kejadian terbukti bahwa Yahweh secara bertahap mengungkapkan diri-Nya dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan monoteisme Unitarian Alquran.
10. Kata “injil” kerap menjadi rancu karena dipahami secara berbeda oleh umat Islam dan Kristen, sebab Alquran memahami “Injil” (Injeel) sebagai kitab suci yang diturunkan dari surga kepada Yesus (bdk.Alquran 5:46-47; 57:27). Akan tetapi, Yesus tidak pernah menerima kitab dari langit. Kitab Injeel  yang dikatakan oleh Alquran tidak pernah ada, sedangkan injil menurut pengertian Kristen adalah kitab yang nyata: Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Alquran keliru mengenai Injeel.
Lama sebelum Alquran ada, kata “injil” dalam Alkitab (bahasa Yunaninya:  εὐαγγέλιον) memiliki makna kabar baik dan memberitakan (bahasa Yunani:  εὐαγγελίζω) kabar baik tentang kerajaan Tuhan, Mesias dari Tuhan (Kristus), dan apa yang telah Yesus selesaikan (1 Korintus 15:1-4). Setelah Yesus mati di kayu salib, bangkit, dan naik ke surga, para murid-Nya memberitakan kabar baik tersebut, dan belakangan menuliskannya. Tulisan itulah yang oleh umat Kristen sekarang disebut Injil: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Semua itu merupakan catatan yang berasal dari ilham ilahi mengenai kabar baik kematian Yesus bagi dosa, kemenangan-Nya atas iblis dan maut, serta hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 20:30-31). Bila Anda belum pernah membaca Injil Kristen, saya merekomendasikan bacalah Injil Yohanes.
Alquran bukan hanya mengarang soal kitab yang tidak pernah ada (Injeel), tetapi juga menyangkal kematian Yesus di kayu salib serta kebangkitan-Nya, dan mengarang tentang suatu peristiwa di masa lalu ketika semua manusia memiliki fitrah Islam, yakni Hari Alastu.
11. 1 Samuel 16:13
13Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.
12. Yohanes 1:32–34
32Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.  33Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.  34Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.
13. Yohannes 20:22
22Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus.
14. Kisah Para Rasul 2:36–41
36Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”37Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” 38Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. 39Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu  dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.”40Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan  yang jahat ini .”41Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
15. Sejumlah Muslim bisa saja mengabaikan lebih dari 500 referensi dalam Perjanjian Baru tentang “Kristus” dan berpendapat bahwa Kitab Suci Kristen telah dibengkokkan sehingga mereka mengabaikan gelar Mesias/ Kristus yang digunakan dalam Alkitab. Namun, di sinilah tampak salah satu penyimpangan utama Islam dari agama Ibrahim dan Yudaisme: Islam terlepas dari sejarah penebusan. Artinya, Islam sepenuhnya bersandar pada ucapan dan kehidupan seorang pria dan pernyataan-pernyataannya tentang apa yang terjadi berabad-abad sebelum dia ada. Terlepasnya Islam dari sejarah penebusan adalah sesuatu yang asing dan berbeda dari agama Ibrahim, “Iman Yahudi-Kristen tidak tumbuh dari spekulasi filosofis yang canggih atau pengalaman mistik yang mendalam, melainkan muncul dari pengalaman sejarah Israel, lama dan baru, di mana Tuhan membuat diri-Nya dikenal” (George Eldon Ladd).
16. Matius 16:13-23
13Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” 14Jawab mereka: “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” 15Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” 16Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah b  yang hidup!” 17Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. 18Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya 19Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” 20Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapapun bahwa Ia Mesias.
Pemberitahuan pertama tentang penderitaan Yesus dan syarat-syarat mengikut Dia. 21Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan k  dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan n  pada hari ketiga. 22Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” 23Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
17. Matius 26:63-68
63Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” 64Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya.  Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit. 65Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. 66Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!” 67Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, 68dan berkata: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?
18. Lukas 22: 14-20
14Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. 15Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebelum Aku menderita. 16Sebab Aku berkata kepadamu: Aku tidak akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah.17Kemudian Ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata: “Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. 18Sebab Aku berkata kepada kamu: mulai dari sekarang ini Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai Kerajaan Allah telah datang.” 19Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” 20Demikian juga dibuat-Nya dengan cawan sesudah makan; Ia berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.
19. 1 Korintus 11:23-2623Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 24dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” 25Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” 26Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.
20. “… di semua gereja di seluruh dunia, dilakukan ritual, biasanya pada hari pertama minggu itu. Detail ritualnya mungkin berbeda-beda di berbagai tempat, tetapi satu hal tetap sama dan terpusat, yaitu roti dipecahkan, air anggur dituang lalu diminum; orang yang memecahkan roti dan menuangkan anggur mengatakan bahwa dia melakukannya demi menuruti perintah yang diberikan oleh Juruselamat pada malam sebelum hari kematian-Nya; sebab Dia, pada malam itu, mengambil roti, memecahkannya, dan memberikannya untuk dimakan, kemudian menuangkan anggur dan memberikannya untuk diminum, sambil mengatakan bahwa roti itu adalah tubuh-Nya yang dipecahkan, dan air anggur adalah darah-Nya yang dicurahkan bagi manusia, lalu menutupnya dengan perkataan, “Perbuatlah ini sebagai peringatan akan Aku.” (William Henry Temple Gairdner, The Eucharist as Historical Evidence, The Nile Mission Press, Kairo, Mesir).
21. “Baptisan Kristen dilakukan bukan “atas nama” tiga Tuhan, bukan dua makhluk ditambah satu Tuhan, bukan tiga bagian dari Tuhan, bukan juga tiga tahapan Tuhan, tetapi satu Tuhan yang adalah Bapa, Anak, dan Roh yang kekal) (Gregorius dari Nyssa, dalam “Not Three Gods,” NPNF [A Select Library of the Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Church, Seri pertama, 14 jilid. seri kedua, 14 jilid. Diedit oleh H. Wace dan P. Schaff ] 2 V, hlm. 331-37) … Arti penting liturgisnya, penempatannya yang strategis dalam Injil Matius sebagai perintah terakhir Tuhan, dan fakta bahwa baptisan sering disebut-sebut oleh para penulis Kristen mula-mula, menjadikan ayat ini sebagai inti dari pengajaran Tritunggal. Hal tersebut secara implisit menegaskan keilahian, perbedaan, kesetaraan, dan kesatuan antara Bapa, Anak, dan Roh. Hal ini menyiratkan serta mengundang umat manusia untuk memuja dan mengakui iman kepada Allah Tritunggal (Cyril of Jerusalem, Catechetical Lectures. XVI.4, NPNF 2 VII, p.116)” (Thomas Oden, The Living God: Systematic Theology, Vol. I:202).
22. Kisah ini mungkin hanya legenda, tetapi diceritakan untuk menggambarkan kebesaran Tuhan. Versi serupa juga dikemukakan oleh Alister McGrath yang menulis, “Bagi Agustinus, intinya sederhana: Si comprehendis non est Deus. Jika dapat dimengerti dengan mudah, berarti Dia pasti bukan Tuhan. Pemikiran kita tentang Tuhan tampaknya tidak logis dan membingungkan, justru karena pikiran-pikiran tersebut berada di luar jangkauan pengetahuan dan pemahaman kita sepenuhnya.” (Christian Theology: An Introduction, edisi kelima [Oxford: Wiley-Blackwell, 2011], 235.).