Kematian Yesus di Salib dan Qur’an

This post is also available in: enEnglish (English) arعربى (Arabic) zh-hant 中國傳統的) (Chinese (Traditional)) frFrançais (French) deDeutsch (German) hi हिंदी (Hindi) trTürkçe (Turkish) faفارسی (Persian)

Tiga gambar Alkitab, Quran, dan palu Hakim.

Kepercayaan Kristen tentang kematian Yesus di salib berdasar pada sejarah

Kekristenan berakar pada karya Allah dalam sejarah. Kepercayaan orang Kristen terkait erat dengan apa yang sudah Allah kerjakan dalam dunia ciptaan-Nya.

J. Gresham Machen, seorang Kristen, berkata,

“Gereja mula-mula tidak hanya memperhatikan perkataan Yesus, tetapi juga, utamanya, perbuatan Yesus. Dunia perlu ditebus dengan
pemberitaan tentang sebuah peristiwa. Di dalam peristiwa itu terkandung makna; dan penjabaran peristiwa beserta maknanya itulah yang menjadi doktrin. Kedua unsur ini selalu ada bersamaan dalam pesan kekristenan. Mengisahkan serentetan fakta disebut sejarah; mengisahkan fakta beserta maknanya adalah doktrin. “Menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan” — itu adalah sejarah. “Dia mengasihi saya dan memberi diri-Nya untuk saya” — itu adalah doktrin. Demikianlah kekristenan dari gereja mula-mula”.1Christianity and Liberalism,
25,26

Kaitan antara kepercayaan umat Kristen dan sejarah menjadi penting karena ratusan juta umat Islam menyangkal peristiwa kematian Yesus di kayu salib.2Iman (termasuk asumsi sekuler tentang kemustahilan mukjizat!) tidak menentukan benar atau tidaknya suatu peristiwa sejarah. Sebaliknya, iman orang Ibrani-Kristen “muncul dari pengalaman sejarah Israel, yang lama maupun baru, dimana Allah memperkenalkan diri-Nya. Fakta ini memberikan iman Kristen suatu isi dan obyektivitas tertentu yang membedakannya dari yang lain. “(George Eldon Ladd)
Salah satu penyimpangan utama agama Islam dari agama-agama Ibrahim Yudaisme dan Kristen adalah bahwa Islam terlepas dari karya Allah dalam sejarah. Maksud saya, Islam sepenuhnya didasarkan pada ucapan dan kehidupan seorang manusia serta pernyataan-pernyataan Muhammad tentang sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelum ia ada. Penyimpangan fatal ini sangat besar artinya. Sejumlah kaum Muslim telah mencoba—tetapi gagal—untuk mengeluarkan agama Islam dari kesalahan fatal ini dengan menyatakan adanya kekeliruan pada wahyu sebelumnya. Kenyataannya, ketergantungan Islam pada ucapan seorang pria adalah hal asing yang baru ada belakangan dan merupakan penyimpangan agama Ibrahim.

Ratusan juta umat Muslim menyangkal kematian Yesus di salib.

Pernyataan Alquran mengenai penyaliban:

157 dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. 158 Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya ; dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Surah An-Nisa 4:157-158).3Quran 4:157 merupakan satu-satunya ayat dalam Alquran yang merujuk pada penyaliban Yesus, yang ditafsirkan orang Muslim, bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib.

Ibnu Abbas (w.68 /687) sepupu Muhammad dan dihormati umat Muslim sebagai “bapak tafsir Al-Quran” sekaligus “Samudra [pengetahuan]” menafsir Al-Quran 4:157-158:

(Dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”) Allah menghancurkan Tatianos [seorang tentara Romawi]. (Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya) Allah membuat Tatianos terlihat seperti Yesus sehingga dia yang dibunuh; (Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan itu), benar-benar (dalam keragu-raguan) tentang yang dibunuh itu. (Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka), mereka tidak (pula) yakin bahwa (yang mereka bunuh itu) yaitu jelas mereka tidak membunuh dia. (Tafsir Ibnu Abbas)

Al-Badawi (w.685/1282), salah satu penafsir Islam klasik yang baik, menulis tentang penyaliban:

Ada cerita bahwa sekelompok orang Yahudi menghina Yesus dan ibu-Nya, karena itu Dia berseru kepada Allah tentang mereka. Ketika Allah mengubah mereka [yang menghina] menjadi monyet dan babi, orang-orang Yahudi sepakat untuk membunuh Yesus. Kemudian Allah memberitahu Yesus bahwa Dia akan mengangkat-Nya ke surga, maka Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Siapa di antara kamu yang bersedia diserupakan dengan Aku dan mati [menggantikan-Ku] dan disalibkan dan [langsung] masuk ke surga?” Seorang di antara mereka menawarkan diri, maka Allah mengubahnya menjadi mirip dengan Yesus sehingga dia dibunuh dan disalibkan.
Yang lainnya mengatakan bahwa ada seseorang yang berpura-pura [menjadi orang percaya] di hadapan Yesus, tetapi kemudian meninggalkan dan menyangkal Dia, kemudian Allah membuatnya mirip Yesus, dan dia pun ditangkap lalu disalib.4dari terjemahan bahasa Inggris Francis E. Peters, Judaism, Christianity, and Islam: The Classical Texts and Their Interpretation, vol. 1, From Covenant to Community, bab.3, no.30 [Princeton: Princeton University Press, 1990], 151

Penyangkalan Islam terhadap kematian Yesus di kayu salib mengubah kisah sejarah secara fatal.

Penyangkalan Islam terhadap kematian Yesus di kayu salib tidak memahami apa itu sejarah.5Alquran tak hanya menyangkal sejarah, tetapi juga mengarang sejarah. Alquran 7:172 menyatakan bahwa dahulu kala, manusia dikeluarkan dari sulbi Adam dan ditanyai oleh Allah, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan semua orang menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” Menurut Alquran, Hari Alastu (Alam Dzar) merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam ‘sejarah’ umat manusia. Perjanjian Alastu, beserta monoteisme Unitarian (Tauhid), merupakan hal yang mendasar bagi teologi Islam. Namun, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Yesus tidak pernah mengajarkan tentang adanya peristiwa yang disebut dalam Alquran 7:172. Nabi-nabi sejati dalam Alkitab juga tidak ada yang menyebutkannya. Inilah bukti bahwa ajaran yang dibawa Muhammad berbeda dengan ajaran para nabi sejati yang diutus sebelum beliau. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang “Hari Alastu” yang fiktif ini, lihat “Hari Alastu.

Gambar seorang pria bersujud dengan cara Muslim, kepalanya terkubur dalam pasir.
Bisakah seseorang melihat, mendengar dan mempelajari apa yang telah dilakukan Allah di dunia tanpa mempertimbangkan fakta-fakta?

Pengamatan, kesaksian, dan analisa manusia tidak diperhitungkan (oleh penganut Islam) dalam mempelajari apa yang terjadi di Golgota berabad-abad yang lalu. Yang penting bagi mereka hanyalah bahwa Muhammad mengaku ada sesosok malaikat mewahyukan kepadanya tentang sesuatu di masa lalu, dan isinya bertentangan dengan apa yang pernah dilihat dan dicatat sebelumnya. Padahal, faktanya, Muhammad lahir ratusan tahun setelah kejadian tersebut, tinggal ratusan mil jauhnya, dan tidak memberikan bukti apapun.6Beberapa aliran Islam berpendapat bahwa Al-Quran tidak menyangkal kematian Yesus di salib: “Falasifah tertentu dan beberapa Ismailiyah menafsirkan ayat ini sebagai berikut: orang-orang Yahudi bermaksud menghancurkan pribadi Yesus sepenuhnya; sesungguhnya, mereka hanya menyalibkan nasut-Nya [kemanusiaan], lahut-Nya [keilahian] tetap hidup; ref. L. Massignon, Le Christ dans les Évangiles selon Ghazali, dalam REI, 1932, 523-36, yang mengutip teks-teks Rasa’il Ikhwan al-Shafa (ed. Bombay, iv, 115), satu ayat Abu Hatim al- Razi (sekitar 934), dan dari Ismailiyah Mu’ayyad Shirazi (1077). Namun, tafsiran ini tidak diterima secara umum dan boleh dibilang ada kesepakatan umum yang menyangkal penyaliban [kematian Yesus di kayu salib]. Penolakan itu sangat sesuai dengan logika Kur’an” (Anawati, G.C. “Isa.”, dalam The Encyclopaedia of Islam, EJ Brill, Leiden, versi CD-ROM). Minoritas Muslim yang percaya bahwa Yesus mati di kayu salib tidak memaknai kematian Yesus sebagai penebusan dosa. Mereka juga tidak percaya tubuh Yesus dibangkitkan pada hari pertama minggu itu bagi pembenaran kita (Roma 4:25; 1 Kor 15:3-4) Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pandangan Syiah Ismailiyah, lihat Khalil Andani, “Mereka tidak MembunuhNya: Penyaliban dalam Islam Syiah Ismailiyah.

Fakta Sejarah Kematian Yesus di Kayu Salib.

Para nabi Perjanjian Lama bersaksi tentang kematian dan penguburan Yesus.

Hampir 700 tahun sebelum Yesus, Yesaya menuliskan:

Yesaya 53:7-9
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.  Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.

Yesus bersaksi tentang kematian-Nya dalam berbagai kesempatan.7Sepanjang pengetahuan saya, umat Muslim keliru beranggapan bahwa kitab-kitab Injil Kristen (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sama dengan Injeel dalam Qur’an (bdk. Qur’an 5 :46-47 ; 57:27). Bila Injeel adalah kitab suci yang diturunkan dari surga kepada Yesus, dan kemudian Yesus berikan kepada para pengikut-Nya, berarti kitab Injil milik orang Kristen tidak sama dengan Injeel dalam Qur’an. Tidak ada kitab semacam itu (Injeel) yang diturunkan kepada Yesus maupun murid-Nya. Untuk mempelajari lebih lanjut, lihat ‘Yang Perlu Diketahui Umat Muslim tentang Alkitab.’

Matius 16:21
Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga


Matius 20:17-19
Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”
 
Matius 26:1-2
Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya:
“Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.”
 
Matius 26:6-12
Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku

Para saksi mata yang melihat kematian Yesus di kayu salib:

  • Maria Magdalena
  • Maria ibu Yakobus dan Yusuf
  • Maria ibu Yesus
  • Murid yang dikasihi Yesus (Yohanes 19:26)

Orang-orang yang turut menguburkan jenazah Yesus:

  • Yusuf dari Arimatea
  • Nikodemus
  • Maria Magdalena
  • Maria, ibu Yakobus dan Yusuf

Sumber bukan Kristen yang menuliskan tentang kematian Yesus:

  • Yosefus (sejarawan Yahudi yang lahir sekitar tahun 37 M dan wafat tahun 100 M) merujuk pada kematian Yesus (Antiquities 18.3.3).8Ada tertulis, “Ketika Pilatus, atas saran dari orang-orang terkemuka di antara kami, telah menghukum-Nya di salib …” Bagian yang disebut Testimonium Flavianum ini diperdebatkan, dan keseluruhannya tidak dapat dianggap sebagai tulisan asli Yosefus. Namun, cendekiawan terkenal John P. Meier dan Joseph Klausner mengakui keaslian referensi penyaliban Yesus tersebut.
  • Tacitus ( 55-120 M) sejarawan ternama dari zaman Romawi Kuno menulis pada sekitar tahun 115 M bahwa Kristus “dieksekusi” oleh Pilatus (Annals 15.44).9Muslim menolak keaslian atau relevansi Yosefus dan Tacitus. Namun, dapatkah mereka memberi bukti historis tentang apa yang terjadi menurut versi mereka?

Banyak saksi mata melihat Yesus bangkit:10“Kebangkitan”—istilah yang dipakai dalam Alkitab untuk menceritakan apa yang terjadi pada Yesus setelah disalibkan, mati, dan dikuburkan—merujuk pada peristiwa supernatural di mana kematian dibatalkan. Artinya, Yesus memiliki tubuh dan jiwa yang sama sepanjang proses kehidupan dan kematian-Nya, kemudian mendapat tubuh baru yang mulia setelah kematian-Nya. Yang dialami Yesus setelah Dia mati di kayu salib dan dikuburkan—yaitu kebangkitan—merupakan mukjizat dari Tuhan. Kebangkitan akan dialami oleh semua manusia pada Hari Terakhir/Hari Penghakiman. Namun, hanya orang-orang yang sudah diselamatkan dari dosa melalui darah Yesus yang akan dimuliakan dan tinggal di Langit dan Bumi yang Baru (Wahyu 20:11–22:21).

Yesus memilih para murid (Rasul) untuk bersaksi tentang apa yang Dia lakukan dan ajarkan. Salah satu murid Yesus yang utama adalah Petrus. Petrus merupakan saksi mata kebangkitan Yesus dari kematian dan kenaikan-Nya ke surga. Petrus berkhotbah,

Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. (Kisah Para Rasul 2:32-36)

Rasul Petrus melihat Yesus setelah Ia disalibkan.11Para cendekiawan non-Kristen—mereka tidak percaya pada mukjizat Yesus maupun kelahiran-Nya dari seorang perawan—yang ahli dalam studi Alkitab semakin tiba pada kesimpulan,

“Secara historis mungkin dapat dipastikan bahwa setelah kematian-Nya, Petrus dan para murid telah melihat Yesus sebagai Kristus yang bangkit” (Gerd Lüdemann, “What Really Happened to Jesus”, hal.80).
Bart Ehrman, seorang profesor agnostik menulis,

“Mengapa beberapa murid mengaku melihat Yesus hidup setelah penyaliban-Nya? Saya sama sekali tidak meragukan pengakuan ini…Paulus, yang menulis sekitar dua puluh lima tahun kemudian, menunjukkan bahwa itulah pengakuan mereka, dan saya pikir dia tidak mengada-ada. Lagi pula, dia mengenal beberapa murid itu, yang ditemuinya tiga tahun setelah peristiwa tersebut.”

Menurut Gary Habermas, ada pertambahan dalam penelitian ilmiah yang sampai pada kesimpulan yang sama seperti Gerd Lüdemann dan Bart Ehrman. Untuk mempelajari lebih lanjut, lihat survei Gary Habermas tentang publikasi ilmiah, Resurrection Research from 1975 to the Present: What are the Critical Scholars Saying? 

Yohanes merupakan murid lainnya yang dipilih Yesus untuk melihat dan bersaksi tentang apa yang Yesus lakukan dan ajarkan. Yohanes bersaksi tentang kematian dan kebangkitan Yesus.

Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (1 Yohanes 3:16)

Mempercayai kesaksian tentang wafatnya Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya merupakan persyaratan hukum Musa.

Hukum/Taurat mengharuskan adanya dua atau tiga saksi untuk mensahkan suatu perkara (Ulangan 17:6-7). Ada ratusan saksi tentang kebangkitan Yesus dari kematian (1 Korintus 15:1-8). Oleh karena itu, kesaksian dari Yesus, para nabi Perjanjian Lama, pengikut Yesus, sejarawan non-Kristen, dll adalah benar, sah, dan harus dipercaya.

Al-Quran dan para penganutnya tidak dapat memastikan apa yang terjadi selama penyaliban dan mengapa pengikut Yesus bersaksi tentang kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian.

Meskipun Al-Quran menyatakan bahwa isinya penuh kepastian, An-Nisa 4:157 adalah klaim historis yang jauh berbeda dari kepastian sejarah:

4:157
dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka.
Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu.
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Pernyataan ini tidak benar. Pernyataan ini dibuat ratusan tahun setelah kejadian tanpa dukungan historis dari abad pertama; tidak ada pengikut Yesus yang menulis atau bersaksi bahwa Yesus hanya seolah-olah tampak mati di kayu salib. Al-Quran tidak menjelaskan siapa yang mati di kayu salib, tidak dijelaskan apakah murid-murid Yesus telah ditipu, dan mengapa Allah membiarkan dunia ditipu (atau apakah Allah yang menipu dunia?) terkait hal ini selama ratusan tahun. Umat Muslimlah yang menduga-duga; mereka tidak memiliki pengetahuan yang pasti, penuh keraguan tentang apa yang sebenarnya terjadi selama penyaliban. Semua orang Kristen (Katolik Roma, Ortodoks, Protestan) sepakat bahwa Yesus wafat di salib. Umat Kristen tidak sependapat dalam semua hal. Ada banyak perbedaan pendapat. Namun, satu hal yang disetujui oleh semua orang Kristen adalah kematian Yesus di salib. Bahkan sejarawan non-Kristen12“Salah satu fakta sejarah yang paling pasti adalah bahwa Yesus disalib atas perintah pejabat Romawi di Yudea, Pontius Pilatus” (Bart Ehrman, The Historical Jesus: Lecture Transcript and Course Guidebook, Part 2 of 2 [Chantilly, VA: The Teaching Company, 2000], 162). sangat sependapat tentang historisitas kematian Yesus di kayu salib.13Ini penting karena umat Islam percaya pada konsep Itmam al-hujjah (bahasa Arab untuk “kelengkapan bukti”). Itmam al-hujah adalah keyakinan bahwa kebenaran agama telah sepenuhnya diterangkan oleh seorang Utusan Allah. Mengenai kematian Yesus di salib—Yesus, Kitab Suci, dan sejarah sudah jelas. Jika Muhamad adalah utusan Allah, berarti ia tidak membawa kejelasan atau “kelengkapan bukti” dengan menyangkal peristiwa sejarah yaitu kematian Yesus di salib. Kurangnya kejelasan Muhammad dan kerancuan Muslim tentang apa yang sebenarnya terjadi selama penyaliban adalah bukti bahwa Muhammad bukan Utusan Allah.

Sederhananya, mempercayai Al-Quran berarti melanggar hukum, ilegal, dan berdosa menurut Hukum Musa.

Tiga gambar Alkitab, Quran, dan palu Hakim.
Bukti dan fakta kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya ada di hadapan Anda. Anda harus menilai berdasarkan fakta.

Menolak perbuatan Allah bukan hanya tidak bermoral, tetapi juga tidak berakal.

Masalah muncul ketika keyakinan seseorang tentang dunia tidak sesuai dengan keadaan dunia yang sebenarnya. Ada cerita tentang seorang pasien sakit jiwa yang bersikeras mengatakan bahwa dirinya sudah mati. Para dokter berupaya meyakinkannya bahwa dia masih hidup dan belum mati, tetapi tidak berhasil.

Akhirnya, mereka membuktikan ini dengan menjelaskan kepadanya bahwa orang mati tidak akan mengeluarkan darah, hanya orang yang masih hidup yang bisa berdarah. Setelah melihat otopsi, mendengarkan penjelasan tentang cara kerja sistem peredaran darah, dan membaca buku-buku kedokteran, sang pasien sakit jiwa akhirnya berkata, “Baiklah, hanya orang yang masih hidup yang bisa berdarah.”

Begitu pasien itu mengakui kebenaran ini, salah satu dokter mengeluarkan peniti dan menusukkannya ke pembuluh darah pasien itu.  Para dokter berseru, “Kamu berdarah. Kamu berdarah! Jadi, apa artinya?”

Pasien sakit jiwa itu melihat tangannya yang mengeluarkan darah dan berseru. “TERNYATA ORANG MATI BISA JUGA BERDARAH!”

Dalam pikiran pasien sakit jiwa itu: dia sudah MATI Namun, apa yang ada dalam pikirannya tidak sesuai dengan kenyataan.14Kisah ini diambil dari “Death of the ‘Death of God’, John Warwick Montgomery” dalam Suicide of Christian Theology, 122.  Maksud Dr. Montgomerry adalah “jika Anda mempertahankan anggapan yang keliru dengan gigih, fakta sama sekali tidak ada artinya bagi Anda.”

Islam memiliki masalah serupa. Pernyataannya bahwa Yesus tidak mati di kayu salib tidak sesuai kenyataan, juga tak sesuai dengan sejarah. Sejarah itu penting karena peristiwa yang terjadi dalam sejarah merupakan kebenaran bagi semua orang;

Peristiwa yang berkaitan dengan Injil adalah benar karena terjadi dalam sejarah, dan hal-hal yang terjadi dalam sejarah tidak hanya berlaku bagi mereka yang terlibat secara langsung, tetapi juga bagi semua orang.15Michael Horton, “Heaven Came Down”; Reformasi Modern, Nov./Dec. 1995, Vol. 4 No. 6

Kematian dan kebangkitan Yesus merupakan kabar baik bagi semua orang, karena kita semua akan mati. Yesus bangkit kembali dari kematian dan Anda bisa hidup selamanya melalui iman kepada Dia,

Roma 10:9
Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.

Gambar dua orang yang mendiskusikan Kitab Suci Kristen dan Islam.
Klik gambar untuk mengirimkan surel kepada penulis dan berdiskusi lebih lanjut.
Klik di sini jika Anda ingin bertanya atau berdiskusi lebih lanjut.

Saya mengajak Anda untuk menerima ajaran Kristen sebagai kebenaran dan satu-satunya jalan keselamatan. Yesus berkata, “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yohanes 8:24). Percayalah pada Yesus dan dibaptislah agar dosamu diampuni, maka Anda bisa yakin bahwa kehidupan kekal akan menjadi milik Anda. Kepastian ini berasal dari apa yang telah dilakukan Allah di dunia nyata sehubungan dengan kematian Yesus di kayu salib, penguburan-Nya, kebangkitan, dan kenaikan-Nya ke surga.

Lihat Al-Quran dan Penyaliban Yesus

Anda mungkin tertarik pada:

Unduh, “Apakah Al-Quran Adalah Firman Allah?”

Gambar cover buku, "Apakah Al-Quran Adalah Firman Allah?"
Klik gambar untuk mengunduh buku ini dalam format PDF.

References   [ + ]

1. Christianity and Liberalism,
25,26
2. Iman (termasuk asumsi sekuler tentang kemustahilan mukjizat!) tidak menentukan benar atau tidaknya suatu peristiwa sejarah. Sebaliknya, iman orang Ibrani-Kristen “muncul dari pengalaman sejarah Israel, yang lama maupun baru, dimana Allah memperkenalkan diri-Nya. Fakta ini memberikan iman Kristen suatu isi dan obyektivitas tertentu yang membedakannya dari yang lain. “(George Eldon Ladd)
Salah satu penyimpangan utama agama Islam dari agama-agama Ibrahim Yudaisme dan Kristen adalah bahwa Islam terlepas dari karya Allah dalam sejarah. Maksud saya, Islam sepenuhnya didasarkan pada ucapan dan kehidupan seorang manusia serta pernyataan-pernyataan Muhammad tentang sesuatu yang terjadi berabad-abad sebelum ia ada. Penyimpangan fatal ini sangat besar artinya. Sejumlah kaum Muslim telah mencoba—tetapi gagal—untuk mengeluarkan agama Islam dari kesalahan fatal ini dengan menyatakan adanya kekeliruan pada wahyu sebelumnya. Kenyataannya, ketergantungan Islam pada ucapan seorang pria adalah hal asing yang baru ada belakangan dan merupakan penyimpangan agama Ibrahim.
3. Quran 4:157 merupakan satu-satunya ayat dalam Alquran yang merujuk pada penyaliban Yesus, yang ditafsirkan orang Muslim, bahwa Yesus tidak wafat di kayu salib.
4. dari terjemahan bahasa Inggris Francis E. Peters, Judaism, Christianity, and Islam: The Classical Texts and Their Interpretation, vol. 1, From Covenant to Community, bab.3, no.30 [Princeton: Princeton University Press, 1990], 151
5. Alquran tak hanya menyangkal sejarah, tetapi juga mengarang sejarah. Alquran 7:172 menyatakan bahwa dahulu kala, manusia dikeluarkan dari sulbi Adam dan ditanyai oleh Allah, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan semua orang menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” Menurut Alquran, Hari Alastu (Alam Dzar) merupakan salah satu peristiwa terpenting dalam ‘sejarah’ umat manusia. Perjanjian Alastu, beserta monoteisme Unitarian (Tauhid), merupakan hal yang mendasar bagi teologi Islam. Namun, Nuh, Abraham, Musa, Daud, dan Yesus tidak pernah mengajarkan tentang adanya peristiwa yang disebut dalam Alquran 7:172. Nabi-nabi sejati dalam Alkitab juga tidak ada yang menyebutkannya. Inilah bukti bahwa ajaran yang dibawa Muhammad berbeda dengan ajaran para nabi sejati yang diutus sebelum beliau. Untuk mempelajari lebih lanjut tentang “Hari Alastu” yang fiktif ini, lihat “Hari Alastu.
6. Beberapa aliran Islam berpendapat bahwa Al-Quran tidak menyangkal kematian Yesus di salib: “Falasifah tertentu dan beberapa Ismailiyah menafsirkan ayat ini sebagai berikut: orang-orang Yahudi bermaksud menghancurkan pribadi Yesus sepenuhnya; sesungguhnya, mereka hanya menyalibkan nasut-Nya [kemanusiaan], lahut-Nya [keilahian] tetap hidup; ref. L. Massignon, Le Christ dans les Évangiles selon Ghazali, dalam REI, 1932, 523-36, yang mengutip teks-teks Rasa’il Ikhwan al-Shafa (ed. Bombay, iv, 115), satu ayat Abu Hatim al- Razi (sekitar 934), dan dari Ismailiyah Mu’ayyad Shirazi (1077). Namun, tafsiran ini tidak diterima secara umum dan boleh dibilang ada kesepakatan umum yang menyangkal penyaliban [kematian Yesus di kayu salib]. Penolakan itu sangat sesuai dengan logika Kur’an” (Anawati, G.C. “Isa.”, dalam The Encyclopaedia of Islam, EJ Brill, Leiden, versi CD-ROM). Minoritas Muslim yang percaya bahwa Yesus mati di kayu salib tidak memaknai kematian Yesus sebagai penebusan dosa. Mereka juga tidak percaya tubuh Yesus dibangkitkan pada hari pertama minggu itu bagi pembenaran kita (Roma 4:25; 1 Kor 15:3-4) Untuk mempelajari lebih lanjut tentang pandangan Syiah Ismailiyah, lihat Khalil Andani, “Mereka tidak MembunuhNya: Penyaliban dalam Islam Syiah Ismailiyah.
7. Sepanjang pengetahuan saya, umat Muslim keliru beranggapan bahwa kitab-kitab Injil Kristen (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes) sama dengan Injeel dalam Qur’an (bdk. Qur’an 5 :46-47 ; 57:27). Bila Injeel adalah kitab suci yang diturunkan dari surga kepada Yesus, dan kemudian Yesus berikan kepada para pengikut-Nya, berarti kitab Injil milik orang Kristen tidak sama dengan Injeel dalam Qur’an. Tidak ada kitab semacam itu (Injeel) yang diturunkan kepada Yesus maupun murid-Nya. Untuk mempelajari lebih lanjut, lihat ‘Yang Perlu Diketahui Umat Muslim tentang Alkitab.’
8. Ada tertulis, “Ketika Pilatus, atas saran dari orang-orang terkemuka di antara kami, telah menghukum-Nya di salib …” Bagian yang disebut Testimonium Flavianum ini diperdebatkan, dan keseluruhannya tidak dapat dianggap sebagai tulisan asli Yosefus. Namun, cendekiawan terkenal John P. Meier dan Joseph Klausner mengakui keaslian referensi penyaliban Yesus tersebut.
9. Muslim menolak keaslian atau relevansi Yosefus dan Tacitus. Namun, dapatkah mereka memberi bukti historis tentang apa yang terjadi menurut versi mereka?
10. “Kebangkitan”—istilah yang dipakai dalam Alkitab untuk menceritakan apa yang terjadi pada Yesus setelah disalibkan, mati, dan dikuburkan—merujuk pada peristiwa supernatural di mana kematian dibatalkan. Artinya, Yesus memiliki tubuh dan jiwa yang sama sepanjang proses kehidupan dan kematian-Nya, kemudian mendapat tubuh baru yang mulia setelah kematian-Nya. Yang dialami Yesus setelah Dia mati di kayu salib dan dikuburkan—yaitu kebangkitan—merupakan mukjizat dari Tuhan. Kebangkitan akan dialami oleh semua manusia pada Hari Terakhir/Hari Penghakiman. Namun, hanya orang-orang yang sudah diselamatkan dari dosa melalui darah Yesus yang akan dimuliakan dan tinggal di Langit dan Bumi yang Baru (Wahyu 20:11–22:21).
11. Para cendekiawan non-Kristen—mereka tidak percaya pada mukjizat Yesus maupun kelahiran-Nya dari seorang perawan—yang ahli dalam studi Alkitab semakin tiba pada kesimpulan,

“Secara historis mungkin dapat dipastikan bahwa setelah kematian-Nya, Petrus dan para murid telah melihat Yesus sebagai Kristus yang bangkit” (Gerd Lüdemann, “What Really Happened to Jesus”, hal.80).
Bart Ehrman, seorang profesor agnostik menulis,

“Mengapa beberapa murid mengaku melihat Yesus hidup setelah penyaliban-Nya? Saya sama sekali tidak meragukan pengakuan ini…Paulus, yang menulis sekitar dua puluh lima tahun kemudian, menunjukkan bahwa itulah pengakuan mereka, dan saya pikir dia tidak mengada-ada. Lagi pula, dia mengenal beberapa murid itu, yang ditemuinya tiga tahun setelah peristiwa tersebut.”

Menurut Gary Habermas, ada pertambahan dalam penelitian ilmiah yang sampai pada kesimpulan yang sama seperti Gerd Lüdemann dan Bart Ehrman. Untuk mempelajari lebih lanjut, lihat survei Gary Habermas tentang publikasi ilmiah, Resurrection Research from 1975 to the Present: What are the Critical Scholars Saying?

12. “Salah satu fakta sejarah yang paling pasti adalah bahwa Yesus disalib atas perintah pejabat Romawi di Yudea, Pontius Pilatus” (Bart Ehrman, The Historical Jesus: Lecture Transcript and Course Guidebook, Part 2 of 2 [Chantilly, VA: The Teaching Company, 2000], 162).
13. Ini penting karena umat Islam percaya pada konsep Itmam al-hujjah (bahasa Arab untuk “kelengkapan bukti”). Itmam al-hujah adalah keyakinan bahwa kebenaran agama telah sepenuhnya diterangkan oleh seorang Utusan Allah. Mengenai kematian Yesus di salib—Yesus, Kitab Suci, dan sejarah sudah jelas. Jika Muhamad adalah utusan Allah, berarti ia tidak membawa kejelasan atau “kelengkapan bukti” dengan menyangkal peristiwa sejarah yaitu kematian Yesus di salib. Kurangnya kejelasan Muhammad dan kerancuan Muslim tentang apa yang sebenarnya terjadi selama penyaliban adalah bukti bahwa Muhammad bukan Utusan Allah.
14. Kisah ini diambil dari “Death of the ‘Death of God’, John Warwick Montgomery” dalam Suicide of Christian Theology, 122.  Maksud Dr. Montgomerry adalah “jika Anda mempertahankan anggapan yang keliru dengan gigih, fakta sama sekali tidak ada artinya bagi Anda.”
15. Michael Horton, “Heaven Came Down”; Reformasi Modern, Nov./Dec. 1995, Vol. 4 No. 6