Is the Quran or Bible the Word of God? Christianity or Islam?

Sejarah, Doktrin Dan Agnostikisme Muslim

LATAR BELAKANG

Sangat penting untuk disebutkan berulangkali bahwa peristiwa sejarah tentang kematian, penguburan dan kebangkitan Yesus adalah perkara yang teramat sangat penting yang harus dipegang teguh oleh umat Allah (1 Korintus 5:1-4).1Samuel Zwemer, yang disebut sebagai Rasul kepada orang Islam, menuliskan pentingnya salib bagi Kekristenan,

Kalau kayu salib itu memiliki arti bagi pemikiran seseorang, maka salib itu menjadi segala-galanya—kenyataan yang paling besar dan rahasia yang paling dalam.  Dia akan memahami bahwa sebenarnya segala kekayaan dan kemuliaan Injil berpusat di sana.  Kayu salib adalah poros dan sekaligus pusat dari pemikiran Perjanjian Baru.  Salib adalah tanda yang sangat khas dari iman Kristen, lambang dari Kekristenan dan inti keberadaannya.  Semakin orang yang tidak percaya berusaha menyangkal karakternya yang sangat penting itu, semakin orang-orang percaya akan mendapati di dalamnya kunci mengenai rahasia tentang dosa dan penderitaan.  Kami mendapati kembali penekanan kerasulan terhadap Salib ketika kita berbicara tentang Injil dengan orang-orang Muslim.

Kita melihat bahwa meskipun banyak yang tersandung karena Injil, kekuatan daya tariknya tetap tidak tertahankan. (Samuel Zwemer, The Glory of the Cross, (London: Marshall, Organ & Scott, 1928), 5).

Namun sebaliknya, orang-orang Muslim yang justru sudah melupakan, mereka tidak mengingat, dan mereka tidak percaya kepada kebenaran inti dari apa yang sudah dilakukan oleh Allah di dalam sejarah (bandingan. 1 Korintus 11:23-25; 15:1-4).2

Keyakinan (doktrin) Kristen adalah berkaitan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Allah di dalam dunia nyata—sejarah darah dan daging.  Kabar Baik itu adalah mengenai pekerjaan Allah dan bukan pekerjaan, filsafat, imajinasi, atau spekulasi manusia saja.

Hubungan antara Doktrin dan Sejarah

J. Gresham Machen (1881-1937)

J. Gresham Machen (1881-1937)

Dalam usaha saya untuk belajar saya mendapati bahwa J. Gresham Machen menuliskan dengan sangat jelas mengenai hubungan antara sejarah dan doktrin,

“Orang yang mempelajari Perjanjian Baru pertama-tama juga akan menjadi seorang sejarawan.  Pusat dan inti dari keseluruhan Alkitab adalah sejarah.  Semua yang lain yang ada di dalam Alkitab berada dalam kerangka sejarah dan membawa kepada klimaks sejarah.  Alkitab pertama-tama sekali adalah catatan dari peristiwa-peristiwa.

“Alkitab berisi catatan mengenai sesuatu yang sudah terjadi, sesuatu yang memberikan wajah baru di dalam kehidupan.  Apakah sesuatu itu, itulah yang dikatakan oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.  Sesuatu itu adalah kehidupan dan kematian serta kebangkitan Yesus Kristus.  Otoritas Alkitab harus diuji berdasarkan titik pusat ini.  Apakah Alkitab benar mengenai Yesus?… Kalau salah, maka otoritasnya sirna.  Pertanyaan ini harus dihadapi.  Apa yang harus kita pikirkan mengenai Yesus dari Nazaret? (J. Gresham Machen, History and Faith, Princeton, NJ : The Princeton Theological Review, 13.3 [July 1915], 337-351).

“…kalau agama dilepaskan dari sejarah maka tidak ada yang namanya Injil.  Karena “Injil” berarti “Kabar Baik,” berita, informasi mengenai sesuatu yang sudah terjadi.  Bahkan istilah Injil yang terlepas dari sejarah saja merupakan istilah yang sangat kontradiktif. (J. Gresham Machen, Christianity and Liberalism, [New York: Macmillan, 1924], 121).

“Jelas harus diakui, kemudian, bahwa Kekristenan memang bergantung kepada sesuatu yang sudah terjadi; agama kita harus kita tinggalkan sama sekali kecuali kalau memang ada suatu titik di dalam sejarah dimana Yesus memang mati sebagai pengganti bagi dosa-dosa manusia.  Kekristenan jelas sekali sangat bergantung kepada sejarah” (Idem.).

Ada beberapa kutipan yang lain dari orang-orang Kristen yang menegaskan bahwa Kabar Baik di dalam Injil itu berkaitan dengan pekerjaan Allah di dalam sejarah,

“Iman Kristen adalah … sebuah iman sejarah…. ia terikat dengan kejadian-kejadian tertentu di masa lalu, dan kalau kejadian-kejadian itu bisa dibuktikan tidak pernah terjadi…maka kemudian . .. iman Kristen . . . akan terbukti hanya dibangun di atas pasir” (Alan Richardson, Christian Apologetics (London: SCM, 1947), 91, cited in Ronald H. Nash, Christian Faith and Historical Understanding, [Dallas: Word Publishing/Probe Books, 1984], 12).

“Injil adalah mengenai fakta sejarah.  Kalau hal itu tidak bisa diteliti dan diuji, maka pemberitaannya akan kehilangan integritas dan keyakinan (Clark Pinnock, “Toward A Rational Apologetic Based Upon History,” Bulletin of the Evangelical Theological Society 11 [Summer 1968], 147-48).

“Iman Alkitabiah di dasarkan kepada sejarah” (I.H. Marshall, Luke: Historian and Theologian, [Milton Keynes, UK: Paternoster, 1970], 37)

“Iman bergantung kepada fakta-fakta sejarah” (ibid., p. 46).

 “Suka atau tidak suka,  berdiri tegak atau jatuhnya Kekristenan memang berkaitan dengan fakta-fakta sejarah—bukan hanya sekedar pengakuan sejarah, tetapi fakta-fakta sejarah.  Di antara fakta-fakta itu yang paling penting bagi iman Kristen adalah tentang kebangkitan Yesus dari kematian.  Iman Kristen bukan hanya sekedar iman kepada iman—baik iman kita sendiri maupun iman orang lain—namun, suatu keyakinan tentang pentingnya beberapa peristiwa sejarah tertentu.  Paulus dengan tepat mengatakan bahwa kalau Kristus tidak dibangkitkan, orang-orang Kristen akan menjadi orang-orang yang paling memprihatinkan di antara semua umat manusia.  Mereka menjadi orang-orang yang percaya kepada sebuah kebohongan kalau Kristus tidak bangkit.  Kalau Kristus tidak bangkit, hal itu juga mengubah pandangan kita tentang Allah.

“Pandangan apapun yang di dalamnya mencabut pengakuan tentang Yesus dan kebangkitan-Nya dari wilayah kenyataan sejarah dan kemudian menempatkannya hanya sekedar  di dalam wilayah keyakinan pribadi atau subyektif semata yang tidak mungkin bisa diteliti oleh manusia merupakan tindakan yang sama sekali tidak menguntungkan dan bahkan tidak adil terhadap Yesus dan kebangkitan-Nya.  Merupakan sebuah pandangan yang tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa iman Kristen hanya akan terpengaruh sedikit saja kalau Yesus tidak sungguh-sungguh bangkit dari kematian dalam rentang tempat dan waktu.  Ini adalah pangdangan dari orang-orang yang mau mempertahankan iman mereka dengan mengorbanan kenyataan atau fakta-fakta sejarah.  Seseorang yang membuang fondasi sejarah dari iman Kristen juga sudah membuang kesinambungan yang nyata antara imannya sendiri dengan  iman yang dimiliki oleh Petrus, Paulus, Yakobus, Yohanes, Maria Magdalena, atau Priskila.  Apapun yang dikatakan orang mengenai pandangan yang demikian itu, iman yang demikian itu bukanlah iman sejarah yang dihidupi dan dipertahankan sampai mati oleh orang-orang Kristen mula-mula.  Mereka memiliki ketertarikan ke dalam kenyataan sejarah, khususnya kenyataan sejarah mengenai Yesus dan kebangkitan-Nya, karena mereka percaya bahwa iman mereka, dalam segala aspeknya, didasarkan kepada kenyataan itu.” (Ben Witherington, New Testament History: A Narrative Account, [Grand Rapids: Baker Academic, 2001], 166,167)

Sebagaimana yang dijelaskan tadi, berita/sejarah sangatlah penting karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam sejarah bukan hanya untuk mereka yang terlibat tetapi untuk semua orang.  Inilah alasannya sehingga sejarah dipelajari di universitas-universitas dan mengapa surat kabar dan berita sangatlah populer.

Masalah yang sangat fundamental dengan Islam adalah karena ia bergantung kepada sejarah, tetapi ia juga menyangkali sejarah.  Islam menyangkal apa yang dialami dan dicatat orang-orang lain di dalam sejarah, dan ia menegaskan apa yang tidak pernah dialami oleh Muhammad.

Lebih lanjut lagi, Al-Quran diyakini sebagai firman Allah.  Tetapi penerimaan Islam terhadap Al-Quran sangat bergantung kepada penyampaian seseorang (Muhammad).  Juga, apa yang disampaikan Muhammad itu dikumpulkan menjadi suatu buku (mushaf) oleh beberapa orang setelah ia sendiri mati.  Kalau peristiwa-peristiwa itu tidak terjadi di dalam sejarah, maka Islam tidak akan ada.  Ini menjelaskan bahwa Islam sangat bergantung kepada sejarah.

Bagian-Bagian di dalam Al-Quran yang Berbicara Mengenai Kematian dan Kebangkitan Yesus

Kebergantungan Islam akan sejarah juga merupakan titik lemahnya karena ia menyangkali sejarah tentang kematian Yesus di kayu salib.  Kematian Yesus adalah peristiwa sejarah.  Hal itu juga sudah diajarkan oleh Yesus.  Kematian Yesus juga disaksikan oleh banyak orang.  Peristiwa itu ditegaskan kejadiannya oleh orang-orang Kristen, orang-orang Yahudi, dan juga orang-orang Romawi.

Qs 4:157 adalah satu-satunya ayat di dalam Al-Quran yang menyebutkan mengenai penyaliban Yesus,3 dan ada beberapa ayat lain yang berbicara mengenai kematian dan/atau kenaikan Yesus.  Jika semua bagian-bagian itu dikumpulkan maka akan dibutuhkan banyak sekali penafsiran dan penyesuaian dengan keyakinan bahwa Yesus tidak mati di kayu salib (Saya sudah memberikan tanda kepada beberapa kata kunci dalam bahasa Arab yang menunjuk kepada penyaliban dan kematian Yesus.  Klik pada kata itu untuk mendapatkan link melihat tata bahasa dan analisa linguistik kata-kata  itu yang diambil dari Quranic Arabic Corpus),

Qs 3:55
55 (Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu [mutawaffīka] dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.

Qs 4:157-159
157dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan [walākin shubbiha lahum] dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa
158Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah [rafaʿahu] mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
159Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya [mawtihi].  Dan di hari kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.

Kalau dilihat dari terjemahan kata Arab untuk tawaffaytanī, Qs 5:117 mengatakan bahwa Yesus berbicara kepada Allah mengenai kenaikan atau kematian-Nya.  Terjemahan dari The Sahih International adalah,

117 Aku tidak mengatakan kepada mereka kecuali yang Engkau perintahkan kepadaku—untuk menyembah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.  Dan aku adalah saksi atas mereka selama aku berada bersama mereka; tetapi ketika Engkau mengangkat aku [tawaffaytanī], Engkaulah Pengawas atas mereka, dan Engkaulah, di atas semuanya, Menjadi Saksi. (Sahih International)

Shakir menerjemahkan,

117 Aku sama sekali tidak mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau berikan kepadaku: Untuk melayani Allah, Tuhanmu dan Tuhanku, dan aku adalah saksi atas mereka selama aku di antara mereka, tetapi ketika Engkau membuat aku mati [tawaffaytanī],4 Engkau adalah pengawas atas mereka, dan Engkau adalah saksi atas segala sesuatu.

Qs 19:33 dan konteks luasnya membuat referensi mengenai kematian Yesus dan kebangkitan-Nya,

Qs 19:30-37
30 Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi.
31dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup
32Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
33Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal  [amūtu] dan pada hari aku dibangkitkan hidup [ub’ʿathu] kembali.”
34Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya.
35Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia.
36[Isa mengatakan], ” Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”
37 Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka (mengenai Isa). Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.

Joseph Cumming, setelah menyelidiki perkataan para penafsir Muslim mengenai bagian-bagian di atas, meberikan daftar berisi sepuluh penjelasan mengenai pengajaran Al-Quran tentang penyaliban,

1) Teori penggantian (Allah membuat seorang yang lain menjadi serupa dengan Yesus, dan pengganti ini yang kemudian disalibkan menggantikan Yesus, sementara Allah langsung mengangkat Yesus ke surga.)

2) Teori tidur/pingsan (Yesus tidak mati di kayu salib dan kemudian bangun di dalam kubur.  Ini adalah pandangan kaum Muslim Ahmadiyah).

3) Kalau menerjemahkan kata mutawaffīka di dalam Qs 3:55 berarti “mengambil”5 Qs 3:55 kemudian ditafsirkan sebagai penjelasan yang mengatakan bahwa Yesus tidak mati tetapi diambil, “Aku mengambilmu dalam keadaan hidup tanpa harus mati di kayu salib.”

4) Transposisi kronologis—pernyataan-pernyataan tentang kematian Yesus di dalam Al-Quran menunjuk kepada kembalinya Yesus ke dunia di masa depan dimana Ia kemudian akan mati.6

5) Allah “mengakhiri masa hidup Yesus di dunia ini.”

6) Allah “mengangkat Yesus sepenuhnya, dalam tubuh dan jiwanya,”

7) Agnostikisme mengenai kapan dan bagaimana terjadinya kematian dan kebangkitannya.

8) Penglihatan Sufi yang mengatakan bahwa Yesus mati terhadap kehendak dan keinginan dagingnya

9) “Seperti kaum sahid, Yesus sungguh-sungguh mati, tetapi sekarang Ia hidup bersama dengan Allah” (Ini adalah pandangan Shi‘a Isma’ili Muslims).7

10) Kematian dan kebangkitan yang nyata dan sungguh-sungguh terjadi yang berkaitan dengan pandangan Kristen.8

Saya tidak bisa berbahasa Arab, dan saya tidak mau berpura-pura memberikan penjelasan yang bersifat filologis, semantik atau aturan tata bahasa berkenaan dengan tafsiran Al-Quran.  Saya mempersilahkan para ahli yang melakukannya.  Namun, dalam pemahaman saya, meskipun ada kemungkinan untuk mengatakan kalau Al-Quran menyatakan bahwa Yesus sungguh-sungguh mati di kayu salib dan bangkit dari kematian (#10), para penafsir Muslim tidak akan percaya bahwa penafsiran itu merupakan penafsiran yang paling memungkinkan.

Sebagian besar penafsir Muslim dan orang-orang Muslim sudah meyakini bahwa Al-Quran mengatakan Yesus tidak mati di kayu salib.  Bahkan, penafsiran tradisional ini begitu kuat sampai-sampai di samping tempat yang diyakini sebagai kuburan Muhammad di Medinah ada sebuah kuburan kosong yang dipersiapkan bagi kedatangan Yesus kembali dan kematian-Nya di masa yang akan datang.

Diakui bahwa ‘pengajaran Al-Quran mengenai kematian Yesus tidak sepenuhnya jelas,”9 dan ketika orang-orang Muslim diminta untuk menjelaskan apa yang terjadi di kayu salib, mereka sering mengeluarkan pandangan agnostik mereka (#7) dan kemudian mengatakan, “Hanya Allah yang tahu dengan pasti.”

Agnostikisme terhadap peristiwa sejarah kematian, kebangkitan dan kenaikan (karya Yesus) adalah ketidakpercayaan.  Menolak keilahian dan keberadaan Yesus sebagai Anak (pribadi Yesus) adalah tindakan yang justru lebih jauh dari sekedar agnistikisme.
Pasal-pasal lain dari Apakah Qur’an Firman Allah:

 

Apakah Al-Quran adalah Firman Allah? (Indonesian)

Footnotes

  1. Pengajaran Paulus di dalam 1 Korintus 15 melanjutkan pengajarannya sebelumnya mengenai ingatan Gereja tentang kematian Yesus di dalam Perjamuan Tuhan.

    23Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti,24dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!”25Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”26Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. (1 Korintus 11:23–26)

    Ketaatan Gereja untuk mengadakan Perjamuan Tuhan adalah kesaksian yang sangat penting terhadap kematian Yesus dan ketaatan kepada pengajaran Yesus.  Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, lalu bagaimana orang-orang Muslim bisa menjelaskan berlangsungnya praktek ini yang bisa dirujuk kepada masa-masa awal Kekristenan? (Lihat William Henry Temple Gairdner, The Eucharist as Historical Evidence, The Nile Mission Press, Cairo, Egypt []

  2. “Al Qur’an, memang, adalah sebuah kitab mengenai kenangan dan ingatan, yang sering dikatakan sebagai pertama-tama dan terutama sekali adalah sebagai dhikr, atau tadhkira, sebuah peringatan” (see Quran 74:54; 81:27) (Angelika Neuwirth, “Qur’an, Crisis and Memory” in Neuwirth, A./Pflitsch, A. (eds): Crisis and Memory, [Beiruter Texte und Studien, 2001], 115). []
  3. Sangat luar biasa melihat betapa pentingnya penyaliban dan kematian Yesus di kayu salib bagi Kekristenan. []
  4. Kaum Muslim Ahmadiyah menafsirkan tawaffaytanī sebagai menunjuk kepada kematian ya (bukan kenaikan-Nya) yang mereka percayai tidak terjadi di kayu salib tetapi pada saat Yesus berusia 120 tahun.  Mereka juga menafsirkan tradisi (hadits) dengan cara yang sama,

    Kisah Ibn ‘Abbas:

    Nabi berdiri di depan kami dan bersabda (mengatakan) “Kamu akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki, telanjang, dan tidak bersunat (sebagaimana Allah berfirman) “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.”  (Qs 21:104).  Dan manusia yang pertama yang akan didandani pada Hari Kebangkitan adalah (Nabi) Ibrahim Al-Khalil.  Kemudian akan dibawalah beberapa orang dari pengikutku ke sebelah kiri (yaitu, ke dalam Api), dan aku akan berseru, “Ya Tuhan!  Para sahabatku.” Dan kemudian Allah akan berfirman, “Engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan setelah engkau meninggalkan mereka.  Aku kemudian akan mengatakan sebagai hamba yang setia, ys mengatakan, “aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku (tawaffaytanī), Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu . . . Maha Bijaksana” (Qs 5.117-118).  Sang narrator menambahkan, Kemudian akan dikatakan kepada mereka (yaitu, yang meninggalkan Islam) untuk terus membalikkan tungkau mereka (meninggalkan Islam) . (Bukhari, Volume 8, Book 76, Number 533). (Lihat Maulana Hafiz Sher Mohammad, “The Death of Yesus According to Islamic Sources: Evidence of the Hadith”).

     Hadits adalah bagian dari perkataan, tindakan dan persetujuan dari Muhammad (sunnah).  Semuanya itu adalah sumber wahyu bagi orang-orang Muslim dalam tingkatan kedua setelah Al-Quran (Qs 33:21; 2:151).  Sebuah pepatah Muslim memberikan penekanan mengenai pentingnya tradisi itu, “Memahami Islam adalah Sunnah, dan Sunnah adalah Islam” –artinya, salah satunya tidak bisa ada tanpa yang lainnya. []

  5. Di bagian lain di dalam Al-Quran maka tiga akar suku kata itu wāw fā yā diterjemahan kematian, wafat” dan bukannya “diangkat.”  Kadangkala dibuat argumentasi bahwa kalau memang maksudnya adalah “diangkat” maka adakata lain dalam bahasa Arab yang akan dipakai. []
  6. Kepercayaan orang-orang Muslim mengenai kematian Yesus di masa yang akan datang didukung oleh hadits berikut ini,

    Kisah AbuHurayrah:

    Sang Nabi (s.a.w) mengatakan, Tidak ada nabi di antara aku dan dia, yaitu, Isa (a,s).  Ia akan turun (ke dunia).  Ketika kamu melihatnya, kenalilah dia, seorang dengan perawakan sedang, rambut kemerahan, memakai dua jubah tipis berwarna kuning, parasnya nampak seolah-olah embun akan mengalir di kepalanya meski ia tidak akan menjadi basah.  Ia akan memerangi manusia untuk membela Islam. Ia akan mematahkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizya.  Allah akan melenyapkan semua agama selain agama Islam.  Ia akan membunuh Dajjal dan akan hidup di dunia selama empat puluh tahun dan kemudian ia akan mati.  Orang-orang Muslim akan menyembahyanginya. (Sunan Abu Dawud Book 37, Number 4310) []

  7. Islam Syiah berjumlah 9,5% dari semua Muslim tradisional di dunia ini.  Ada tiga cabang di dalam Islam Syiah yaitu :Dua belas Imam (8%), Zaidi (kurang dari 1%) dan Ismaili (kurang dari 0.5%).  Lihat Khalil Andani, “They Killed Him Not: The Crucifixion in Shi‘a Isma‘ili Islam”. []
  8. Diadaptasi dari Joseph Cumming, “Did Yesus Die on the Cross? The History of Reflection on the End of His Earthly Life in Sunni Tafsir Literature” (Yale University, 2001). 

    Tujuan penelitian Cumming adalah untuk menetapkan adanya dasar kesamaan-kesamaan antara Kristen dengan Muslim.  Namun, perlu dipahami bahwa dasar kesamaan-kesamaan yang hanya didasarkan kepada perkiraan kemungkinan dan bukannya kepada interpretasi Al-Quran yang jelas bukanlah dasar yang kuat.  Dasar kesamaan yang kuat adalah tentang keyakinan akan kenyataan sejarah mengenai kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian pada hari pertama minggu itu.  Yang dikatakan oleh Paulus sebagai yang paling utama  untuk keselamatan di dalam 1 Korintus 15:1-3 bukanlah yang paling utama dalam pandangan Al-Quran atau Islam.  Sebagai akibatnya, tak terhitung banyaknya orang-orang Muslim yang sudah disesatkan dan menyepelekan peristiwa dan pentingnya kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya dari kematian pada hari pertama minggu itu. []

  9. Neal Robinson, “Yesus.”  Encyclopaedia of the Qurʾān. General Editor: Jane Dammen McAuliffe, (Leiden and Boston: Brill, 2005), versi CD-ROM. []

What is your opinion?

This entry was filed under Indonesian. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



   

Oh dear! It looks like you're viewing this website in Internet Explorer 6.

IE6 has problems displaying many websites correctly and is no longer supported by Microsoft. If you want to see this website with the beautiful design intended, you should upgrade to IE8 or maybe have a fresh start with Firefox or Safari. To make this website usable in IE6, you are being presented with a 'bare-bones' layout.